Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah - Renungan kita kali ini ialah tentang detik-detik kehidupan pertama syahid dan detik-detik terakhir kehidupan mujahid. Itulah detik-detik yang dihindari banyak orang dan dicemaskan para pahlawan dunia. Itulah detik-detik di mana seseorang meninggalkan kehidupannya dan mimpi-mimpinya. Kehidupan itu tiba-tiba terputus dan ia pun berada di dunia lain yang belum pernah disaksikannya dan belum pernah diketahuinya kecuali melalui berita saja.

Detik-detik tersebut adalah detik-detik pertama orang yang mati syahid. Itulah detik-detik permulaan dan di hadapan pintu Barzakh. Permulaan ia meninggalkan dunia menuju akhirat. Akhir keberadaannya sebagai seorang muslim yang hidup menuju permulaan kehidupan syahadah yang abadi.

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah

Detik-detik mengagumkan dalam kamus seseorang. Detik-detik yang tidak dipahami oleh sembarang manusia. Itulah detik-detik yang tidak ingin digapai kecuali oleh orang-orang beriman. Detik-detik yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Detik-detik kedatangan dan kepergian yang menyatu. Detik-detik akal seorang Mukmin menyikapinya dengan bingung: apakah harus didoakan dapat keberkahan atau disedihkan. Apakah diberi ucapan selamat atau belasungkawa. Apakah harus menangisinya atau berbahagia.. Kesedihan atau kebahagiaan dan pelukan.

Bagaimana kondisi detik-detik tersebut? Tuhan Pemilik Kemuliaan tertawa kepadanya! Betapa mulia dan berwibawanya situasi dan kondisi itu. Masih adakah yang lain setelah itu, wahai syahid?

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah

Seorang yang terpercaya bercerita: Kami diberitahu oleh seorang komandan jihad, Kami bersama beberapa ikhwan berada di medan tempur. Lalu, tiba-tiba seorang ikhwan berteriak kepada kami, Surga! Lihatlah, itu surga! Ia menunjukkan tangannya ke depan, dan tidak berselang lama peluru melesat dan mengenai kepalanya, lalu ia pun tersungkur mati. Semoga Allah merahmatinya.

Sesungguhnya orang yang mati syahid itu memiliki beberapa tanda.. (di antaranya adalah) ia melihat tempat tinggalnya di surga.. (HR Tirmidzi, Shahih)

Allah tersenyum kepadanya dan memperlihatkan surga kepadanya! Alangkah besar karunia itu! Adakah harapan yang lebih besar dari itu wahai syahid?

Banyak pahlawan meninggalkan medan perang karena menyangka peluru yang bersarang di badan itu mengakibatkan penderitaan. Tetapi, orang mukmin maju terus karena ia tahu keadaan yang sebenarnya. Tidaklah orang yang mati syahid itu merasakan sakit saat terbunuh melainkan seperti salah seorang dari kalian merasakan cubitan. (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Nasaâi dengan sanad yang baik).

Allah tersenyum kepadanya dan menunjukkan tempatnya di surga dan ia pun tidak mengeluh saat mati! Betapa mulianya engkau di mata Allah..Lalu, apa lagi setelah itu wahai syahid?

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah

Orang mukmin itu takut berbuat dosa dan berharap taubat sebelum mati. Rasulullah bersabda, Dan orang mukmin yang membersihkan dirinya dari berbagai dosa dan kesalahan, ia berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya hingga ketika ia berhadapan dengan musuh, maka ia bertempur hingga terbunuh. Itulah kain seka yang menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya. Sesungguhnya pedang adalah penghapus dosa. (al-Musnad dan Shahih Ibni Hibban).

Apakah Anda takut dosa? Sesungguhnya orang yang syahid itu memiliki keistimewaan di sisi Allah: dosanya diampuni sejak tetasan darahnya yang pertama. (HR Ahmad, shahih menurut Tirmidzi).

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah

Allah tertawa kepadanya, memperlihatkan tempatnya di surga, ia pun tidak mengaduh pada detik-detik kematian, dan dosa-dosanya dihapus, kecuali hutang. (Shahih Muslim)

Betapa agungnya mati syahid di jalan Allah. Apakah engkau puas, wahai syahid? Manusia di dalam kubur menghadapi ujian, sementara teman kita (syahid) bergembira ria di dalamnya. Imam Nasaâi dan perawi lain menceritakan seseorang yang bertanya, Ya Rasulullah, mengapa orang-orang mukmin menghadapi ujian kecuali syahid? Nabi saw pun menjawab, Kilau pedang di atas kepalanya itu sudah cukup menjadi fitnah (ujian) baginya.

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah

Allah tertawa kepadanya sambil memperlihatkan tempatnya di surga sebelum merasakan kematian. Ia sedikitpun tidak merasakan sakitnya kematian. Dosa-dosanya dihapus sejak tetesan darahnya yang pertama. Ia terjaga dari siksa kubur.

Semua ini terjadi dalam waktu yang singkat di mana semua orang takut menghadapinya. Itulah detik- detik ujian. Waktu yang amat singkat yang dilalui orang mukmin yang tangguh saat ia melihat darahnya lalu sekejap sesudahnya ia melihat hasil jerih payahnya.

Belum kering tanah dari darah syahid, hingga kedua istrinya (bidadari) menjemputnya. Keduanya bak burung yang mengepakkan sayapnya. Keduanya lalu mendarat ke tanah. Dan di tangan masing-masing bidadari itu ada perhiasan yang lebih baik daripada dunia dan seisinya. (HR Ahmad)

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah

Tidakkah dua bidadari cukup bagimu wahai sang syahid? Apakah engkau mengharapkan kemuliaan yang lebih besar? Demi Allah, engkau mendapat apa yang kauinginkan. Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Ayahku dibawa kepada Rasulullah saw sedangkan tubuhnya sudah terpotong-potong. Lalu diletakkan di hadapan Rasul saw. Aku bermaksud membuka penutup wajahnya, lalu kaumku melarangku. Lalu terdengarlah suara wanita yang berteriak. Dia adalah putri Amr” konon saudari ˜Amr. Rasulpun bersabda: “Mengapa kamu menangis”atau: janganlah kamu menangis! Karena para malaikat senantiasa menaunginya dengan sayap-sayapnya (HR Bukhari)

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah

Alangkah agungnya seorang yang syahid Di akhirat ia memperoleh kebesaran luar biasa. Dia tidak meninggalkan dunia ini kecuali dengan barisan yang mulia. Manusia menangis, sedangkan syahid tertawa. Orang-orang ketakutan, sementara syahid di surga hidup nikmat. Delegasinya mulia dan urusannya amat besar. Dia hadir ke dunia sebagaimana manusia lainnya.. Sedangkan keluarnya dari dunia ini membuat nafas ini terhenti.. Ah.. Alangkah indahnya mati syahid. Siapa yang meraihnya berarti ia meraih surga dan siapa yang lari darinya maka pasti ia mengalami kekurangan. Kita berlindung pada Allah dari kerugian.

Semua manusia mati, tetapi syahid tidak mati..Semua manusia menangis, tetapi syahid tersenyum. Ia mendekap kematian dengan dada yang dipenuhi pancaran iman dan mengobarkan kerinduan akan pertemuan dengan bidadari-bidadari nan cantik bak permata yaqut dan marjan.

Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah

Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka mendapar kabar gembira terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menyambut perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. (Ali Imran: 169-173)

Itulah artikel mengenai Senyum Syuhada Ghaza: Bukti Mukjizat Alquran dan Sunnah, semoga bermanfaat.
Posted by: Haris Info Blog, Updated at: 01.50

Kumpulan Nama Bayi Islami Untuk Anak Laki-laki Beserta Artinya

Kumpulan Nama Bayi Islami Untuk Anak Laki-laki Beserta Artinya - Bagi anda yang bingung memilih Nama Yang Islami Untuk Bayi Anda, maka silahkan memilih dari koleksi Nama-Nama Bayi Islami Beserta Artinya dibawah ini. Temukan nama bayi yang dapat memberikan arti bagi kehidupan buah hati anda.

Kumpulan Nama Bayi Islami Untuk Anak Perempuan Beserta Artinya

Baca juga Kumpulan Nama Bayi Islami Untuk Anak Perempuan Beserta Artinya.


KUMPULAN NAMA BAYI ISLAMI UNTUK ANAK LAKI-LAKI BESERTA ARTINYA :

Adiib = penulis, sastrawan
Ahmad = terpuji
Akram = yang memiliki kemuliaan
Aliif = lemah lembut
Amiin = dapat dipercaya
Amiir = penguasa
Aniis = ramah
Anwar = memiliki banyak cahaya
Ariib = yang memiliki pengetahuan
Arkaan = kemuliaan, tiang penyangga
As’ad = orang yang berbahagia
Asad = binatang buas yang disegani
Asmar = berkulit coklat, tombak
Asyam = pemimpin yang mulia, tinggi
Ayaad = dapat menguatkan, kokoh
Baadii = yang terlihat nyata, gurun yang tenang
Baahir = yang bersinar
Baaqir = memiliki kedalaman ilmu
Baasil = sangat pemberani, singa
Badraan = dua bulan purnama
Badriy = hujan yang turun sebelum musimnya
Bahr = lautan, genangan air yang banyak
Basmaan = banyak tersenyum
Basyiir = pem beri kabar gembira
Bilaal = air atau susu yang membasahi tenggorokan
Burhaan = penjelasan
Daaniy = dekat
Daaris = orang yang belajar
Daariy = pandai, bijaksana
Daffaa’ = banyak memiliki pertahanan diri
Daliil = pem beri petunjuk kepada sesuatu
Dhaawiy = bercahaya
Dhahhaak = banyak tersenyum
Dzahab = emas
Dzakiir = baik dan kuat ingatannya
Dzakiyy = cerdas, pandai
Dzakwaan = sangat cerdas
Dzulfaqar = tulang sulbi, nama pedang ‘Aliyy bin Abii Thaalib
Haafizh = yang memelihara
Haamid = yang bersyukur
Haarits = yang membajak tanah, singa
Haatim = hakim yang diserahi
Haazim = berkemauan keras
Habiib = yang terkasihi
Hafiizh = orang yang terjaga
Haidar = pem berani
Hajjaaj = yang memiliki hujjah yang kuat
Hakam = hakim yang bijaksana
Hakiim = pandai dan memiliki pendapat yang kuat
Haliim = lembut, sabar
Ham daan = yang banyak pujian
Haniif = yang lurus
Hasan = baik rupa dan akhlaqnya
Hasiib = pem beri, pembuat perhitungan
Hibbaan = yang dikasihi
Hilmiy = penyabar, pemurah
Hum aid = diminutif dari Ahmad
Husaam = pedang yang tajam
Husain = sangat baik
Imaam = pemimpin, teladan
Ja’far = sungai, unta betina yang banyak susunya
Jaabir = pem baharu yang agung
Jaasim = tinggi besar
Jaasir = pem berani
Jalaal = orang besar yang dihormati
Jaliil = memiliki kekuasaan yang besar
Jamiil = tampan dan gagah
Jariir = tali pengikat unta, nama penyair terkenal
Jauhar = batu mulia
Khaalid = tetap di tempatnya, kekal
Khaalish = murni, bersih
Khaazin = yang memiliki simpanan
Khairiy = yang memiliki banyak kebaikan
Khalaf = pengganti
Khalduun = ungkapan untuk kasih sayang
Khaliil = kekasih, sahabat yang dipercaya
Khaththaab = banyak bicaranya
Khatiib = orang yang menyampaikan khutbah
Khuzaimah = pohon yang bunganya sangat indah
Raafi’ = kilauan halilintar
Raaghiib = orang yang berkehendak, mencintai
Raa-id = perintis, pasukan perang terdepan
Raa-if = sangat penyayang
Raakaan = kemuliaan
Raamiy = bintang, orang yang memanah Rajab = pengagungan
Raamiz = mengisyaratkan pada sesuatu
Raatib = permanen
Raihaan = rizki, bunga
Ram ziy = yang dapat disimbolkan
Rasyiid = yang mendapat atau memberi petunjuk
Raziin = orang yang tenang, teguh
Ruwaid = lembut
Sa’iid = yang berbahagia
Saabiq = lebih dulu dari yang lain
Saa-id = pem impin
Saajid = orang yang bersujud kepada Allah
Saalim = orang yang selamat
Saamiy = berperawakan tinggi
Saliim = terhindar dari bahaya
Salmaan = yang selamat
Sayyaaf = pejuang
Sayyid = pem uka
Shaabir = yang sabar
Shaadiq = yang benar dalam ucapan
Shaa-ib = yang benar
Shaalih = lurus dan benar
Shaamid = tegar
Shaarim = tajam
Shafwaan = jenih, cerah
Shiddiiq = selalu membenarkan Shafiyy = murni
Siraaj = pelita
Suruur = kegembiraan
Syaakir = orang yang bersyukur
Syaddaad = kuat, sangat pemberani
Syafiiq = sangat lemah lembut
Syahiid = saksi, yang terbunuh di jalan Allah
Syakiib = yang memberi balasan kebaikan
Syariif = orang terhormat
Syihaab = meteor, cahaya api
Syuraih = lapang dada
Taamir = banyak rizki dan kebaikan
Tahsiin = perbaikan
Tamiim = yang memiliki penciptaan sempurna
Taqiy = yang bertaqwa
Taufiiq = keberhasilan
Tauhiid = mengesakan Allah
Thaahir = suci, mulia
Thaalib = yang mencari, murid
Thaariq = bintang pagi, baru
Thariif = ajaib, jarang yang sama
Thayyib = baik, enak, wangi
Tsaabit = kokoh
Tsaamir = yang berbuah
Tsaaqib = cerdas
Tsamiin = mahal
Tsaqiif = sangat pandai
Usaamah = singa
Zaahid = tidak mencintai keduniaan
Zaahir = bercahaya
Zaahiy = wajah yang elok
Zahraan = berkilau
Zaid = tambahan banyak
Zakiyy = suci, bersih
Zhaafir = yang menang
Zhaahir = nyata
Zhafar = kemenangan
Zhahiir = penolong
Zhariif = cerdik
Zuhair = wajah yang berseri-seri

Itulah Kumpulan Nama Bayi Islami Untuk Anak Laki-laki Beserta Artinya, semoga bermanfaat dan mudah-mudahan dengan pemberian nama islami dapat membuat si anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah dan berbakti kepada orang tuanya kelak. Amiin, sekian postingan saya mengenai Kumpulan Nama Bayi Islami Untuk Anak Laki-laki Beserta Artinya semoga bermanfaat.
Posted by: Haris Info Blog, Updated at: 20.17

Penjelasan Mengenai Empat Pilar Negara Khilafah

Penjelasan Mengenai Empat Pilar Negara Khilafah - Bagi Anda yang sedang mencari referensi tentang Empat Pilar Negara Khilafah, silahkan simak Penjelasan Mengenai Empat Pilar Negara Khilafah berikut ini:

Penjelasan Mengenai Empat Pilar Negara Khilafah


Relasi Agama dan Negara

Khilafah dapat disebut juga “negara Islam” (ad dawlah al islamiyah) atau “sistem pemerintah Islam” (nizham al hukm fi al islam). Meskipun Khilafah adalah ajaran Islam yang asli (genuine), namun banyak umat Islam yang kurang memahaminya. Keaslian ajaran Khilafah itu dapat dibuktikan dari pandangan Islam mengenai relasi (hubungan) agama dan negara (kekuasaan). Pandangan Islam ini dirumuskan dalam kalimat “Al Islam diin wa minhu ad daulah.” (Isam adalah agama, di antaranya adalah ajaran tentang bernegara). Ini berbeda dengan konsep sekularisme dari Barat yang memisahkan agama dan negara (fashlud diin ‘an ad daulah). Agama dan negara dalam ajaran Islam tidak terpisah, karena dua sebab berikut ;

Pertama, karakter Rasulullah SAW yang menyatukan fungsi kenabian (nubuwwah) dan kepemimpinan (ri`asah). Setelah hijrah ke Madinah (622 M), Rasulullah SAW bukan hanya berkedudukan sebagai nabi (penyampai risalah), namun juga berkedudukan sebagai kepala negara (ra`is ad dawlah). Terbukti Rasulullah SAW menjalankan fungsi-fungsi kepala negara, seperti mengadakan perjanjian, mengumumkan perang, mengirim atau menerima duta besar, dan seterusnya. Setelah Rasulullah SAW wafat, fungsi kenabian (nubuwwah) berakhir, yakni tak ada nabi lagi, tapi fungsi kepemimpinan (ri`asah) tetap diteruskan oleh para khalifah (kepala negara) selanjutnya.

Ini berbeda dengan karakter Nabi Isa AS, yang menjadi panutan beragama (dan dipertuhankan) bagi kaum Nasrani di Barat. Nabi Isa AS hanya menjalankan fungsi kenabian (nubuwwah), tapi tidak mempunyai fungsi kepemimpinan (ri`asah). Hal ini karena pada saat itu Nabi Isa AS hidup di bawah Kerajaan Romawi. Maka dari itu wajar, orang Barat menganggap agama dan negara terpisah, karena Nabi Isa AS sendiri memang hanya seorang nabi, tidak menjalankan fungsi sebagai penguasa.

Kedua, karakter agama Islam itu sendiri yang bersifat komprehensif (syumuliah), yaitu tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, tapi mengatur segala aspek kehidupan. (Lihat QS Al Ma`idah [5] : 3 ; QS An Nahl [16] : 89). Karenanya Islam membutuhkan eksistensi negara atau kekuasaan untuk menjalankan hukum-hukum Islam secara menyeluruh.

Maka dari itu, agama dan negara (kekuasaan) tak terpisah, perhatikan misalnya sabda Rasulullah SAW :

أَلاَ إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ، فَلاَ تُفَارِقُواْ الْكِتَابَ

“Ingatlah, sesungguhnya Al Kitab (Al Qur`an) dan kekuasaan (as sulthan) akan terpisah, maka (jika hal itu terjadi) janganlah kamu berpisah dari Al Kitab (Al Qur`an).” (HR Thabrani)

Sabda Rasulullah SAW ini juga menegaskan konsep kekuasaan sebagai bagian ajaran Islam :

لينقضن عرى الإسلام عروة ، عروة ، فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتي تليها ، وأولهن نقضًا الحكم ، وآخرهن الصلاة

“Sungguh akan terurai simpul-simpul Islam satu demi satu, maka setiap satu simpul terurai, orang-orang akan bergelantungan pada simpul yang berikutnya (yang tersisa). Simpul yang pertama kali terurai adalah kekuasaan (pemerintahan) sedang yang paling akhir terurai adalah shalat.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Al Hakim).

Karakter agama Islam yang komprehensif ini (termasuk mengajarkan aspek kekuasaan) berbeda dengan karakter agama Nasrani yang tidak komprehensif, yaitu hanya mengatur persoalan aqidah dan akhlak. Agama Nasrani bukan sistem kehidupan (system of life) dan tak punya konsep bernegara, karena itu agama Nasrani dapat terlaksana tanpa ditopang sebuah negara. Perjanjian Baru sendiri dengan tegas memisahkan aspek agama dan negara, sebagaimana disebutkan dalam Matius,”Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.” (Matius 22:21).

Jelaslah bahwa agama dan negara dalam Islam tidak terpisah, berbeda dengan pandangan sekularisme Barat yang memisahkan agama dari negara. Kitab yang berjudul Al Islam wa Ushul Hukm karya Ali Abdur Raziq (1926) yang berusaha membuktikan terpisahnya agama (Islam) dari negara, adalah kitab yang batil karena nyata-nyata memalsukan ajaran Islam yang asli tentang ajaran bernegara.

Takrif (Definisi) Khilafah

Dalam kitab-kitab fiqih dan ushuluddin, Khilafah disebut juga dengan istilah Imamah. Imam Nawawi menegaskan dalam kitabnya Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab (Juz 15 hlm. 517), bahwa Imamah atau Khilafah atau Imarah Al Mukminin adalah sinonim (mutaradif).
Banyak definisi tentang Khilafah. Definisi Khilafah menurut Taqiyuddin An Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir) adalah sebagai berikut :

اَلْخِلاَفَةُ هِيَ رِئَاسَةٌ عَامَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعاً فِي الدُّنْيَا لإِقَامَةِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ الإِسْلاَمِيِّ، وَحَمْلِ الدَّعْوَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ إِلَى الْعَالَمِ

“Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia untuk menegakkan hukum-hukum Syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.”

Dari definisi Khilafah di atas, dapat dipahami tiga poin penting :
  1. Bahwa Khilafah itu adalah suatu kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia. Jadi Khilafah bukan kepemimpinan khusus (ri`asah khashash), seperti kepemimpinan seorang wali (gubernur) di suatu wilayah (propinsi), atau seperti kepemimpinan khusus pada bidang tertentu, misalnya kepemimpinan seorang Qadhi Qudhat dalam bidang peradilan Islam (Al Qadha`). Dapat dipahami juga Khilafah adalah institusi politik pemersatu umat Islam, sebab kepemimpinan Khilafah bersifat umum bagi umat Islam seluruh dunia, tanpa melihat lagi batas-batas negara-bangsa (nation state) yang ada sekarang ini.
  2. Bahwa fungsi pertama Khilafah adalah menerapkan Syariah Islam dalam segala aspek kehidupan, baik itu politik (pemerintahan), ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, politik luar negeri, dan sebagainya. Penerapan syariah ini adalah politik dalam negeri dari negara Khilafah.
  3. Bahwa fungsi kedua Khilafah adalah mengemban (menyebarkan) dakwah Islam ke seluruh dunia. Metode untuk mengemban dakwah ini adalah dengan menjalankan jihad fi sabilillah ke negara-negara lain. Mengemban dakwah dengan jalan jihad fi sabilillah inilah yang menjadi dasar politik luar negeri dari negara Khilafah.

Maka dari itu, dengan keberadaan Khilafah, akan dapat terwujud paling tidak 3 (tiga) hal sbb; pertama, persatuan umat dalam satu negara, yang telah diwajibkan Islam (lihat misalnya QS Ali ‘Imran : 103). Kedua, penerapan syariah Islam secara menyeluruh (kaaffah), yang telah diwajibkan Islam (lihat misalnya QS Al Baqarah : 208; QS Ali ‘Imran : 85). Ketiga, penyebarluasan Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia dan seluruh alam, yang menjadi karakter agama Islam (lihat misalnya QS Al Anbiya` : 107).

Sebaliknya, dengan tiadanya Khilafah, akan terjadi keburukan dan dosa bagi umat Islam paling tidak dalam 3 (tiga) hal sbb; Pertama, umat Islam akan terpecah belah dan tercerai berai, seperti kenyataan sekarang yang terpecah menjadi 50-an negara lebih. Hal ini menimbulkan kondisi yang tidak dibenarkan Islam, yaitu dominasi kafir penjajah atas umat Islam (QS An Nisaa` : 141). Kedua, syariah Islam tidak dapat diterapkan secara menyeluruh, tapi hanya sebagiannya saja. Hal ini menimbulkan kondisi yang tidak dibenarkan Islam, yaitu dominasi hukum non Islam (hukum jahiliyah) atas umat Islam (QS Al Maaidah : 50). Ketiga, karakter agama Islam sebagai agama dan rahmat bagi seluruh umat manusia tidak dirasakan lagi. Yang dirasakan adalah kebalikannya, yaitu penderitaan dalam segala bidang akibat dominasi kapitalisme yang menindas dan menghisap umat manusia di seluruh dunia. Kondisi buruk ini tak dibenarkan Islam (QS Thahaa : 123-125).

Kewajiban Khilafah (Imamah)

Kewajiban adanya Khilafah telah disepakati oleh seluruh ulama dari seluruh mazhab. Tidak ada khilafiyah (perbedaan pendapat) dalam masalah ini, kecuali dari segelintir ulama yang tidak teranggap perkataannya (laa yu’taddu bihi).

Disebutkan dalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyyah Juz 6 hlm. 164 :

أجمعت الأمّة على وجوب عقد الإمامة ، وعلى أنّ الأمّة يجب عليها الانقياد لإمامٍ عادلٍ ، يقيم فيهم أحكام اللّه ، ويسوسهم بأحكام الشّريعة الّتي أتى بها رسول اللّه صلى الله عليه وسلم ولم يخرج عن هذا الإجماع من يعتدّ بخلافه

“Umat Islam telah sepakat mengenai wajibnya akad Imamah [Khilafah], juga telah sepakat bahwa umat wajib mentaati seorang Imam [Khalifah] yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah mereka, yang mengatur urusan mereka dengan hukum-hukum Syariah Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Tidak ada yang keluar dari kesepakatan ini, orang yang teranggap perkataannya saat berbeda pendapat.

Syaikh Abdul Qadim Zallum (Amir kedua Hizbut Tahrir) menyebutkan,”Mengangkat seorang khalifah adalah wajib atas kaum muslimin seluruhnya di segala penjuru dunia. Melaksanakan kewajiban ini - sebagaimana kewajiban manapun yang difardhukan Allah atas kaum muslimin- adalah perkara yang pasti, tak ada pilihan di dalamnya dan tak ada toleransi dalam urusannya. Kelalaian dalam melaksanakannya termasuk sebesar-besar maksiat, yang akan diazab oleh Allah dengan azab yang sepedih-pedihnya.

Kewajiban Khilafah ini bukan hanya pendapat Hizbut Tahrir, tapi pendapat seluruh ulama. Imam Ibnu Hazm menyebutkan bahwa, “Telah sepakat semua Ahlus Sunnah, semua Murji`ah, semua Syiah, dan semua Khawarij akan wajibnya Imamah [Khilafah]…”

Khusus dalam lingkup empat mazhab Ahlus Sunnah, Syaikh Abdurrahman Al Jaziri menyebutkan,”Para imam mazhab yang empat [Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, dan Ahmad] rahimahumullah, telah sepakat bahwa Imamah [Khilafah] itu fardhu, dan bahwa kaum muslimin itu harus mempunyai seorang Imam (Khalifah) yang akan menegakkan syiar-syiar agama dan menolong orang yang dizalimi dari orang zalim. Mereka juga sepakat bahwa kaum muslimin dalam waktu yang sama di seluruh dunia, tidak boleh mempunyai dua imam, baik keduanya sepakat atau bertentangan.”

Dalil-Dalil Kewajiban Khilafah

Para ulama menerangkan bahwa dalil-dalil kewajiban Khilafah ada 4 (empat), yaitu : Al Qur`an, As Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qaidah Syar’iyyah.

Dalil Al Qur`an, antara lain firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-NYa, dan Ulil Amri di antara kamu.” (QS An-Nisaa` : 59)

Wajhul Istidlal (cara penarikan kesimpulan dari dalil) dari ayat ini adalah, ayat ini telah memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati Ulil Amri di antara mereka, yaitu para Imam (Khalifah). Perintah untuk mentaati Ulil Amri ini adalah dalil wajibnya mengangkat Ulil Amri, sebab tak mungkin Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mentaati sesuatu yang tidak ada. Dengan kata lain, perintah mentaati Ulil Amri ini berarti perintah mengangkat Ulil Amri. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa mengangkat seorang Imam (Khalifah) bagi umat Islam adalah wajib hukumnya.

Dalil Al Qur`an lainnya, adalah firman Allah SWT :

فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS Al Maidah : 48)

Wajhul Istidlal dari ayat ini adalah, bahwa Allah telah memerintahkan Rasulullah SAW untuk memberikan keputusan hukum di antara kaum muslimin dengan apa yang diturunkan Allah (Syariah Islam). Kaidah ushul fiqih menetapkan bahwa perintah kepada Rasulullah SAW hakikatnya adalah perintah kepada kaum muslimin, selama tidak dalil yang mengkhususkan perintah itu kepada Rasulullah SAW saja. Dalam hal ini tak ada dalil yang mengkhususkan perintah ini hanya kepada Rasulullah SAW, maka berarti perintah tersebut berlaku untuk kaum muslimin seluruhnya hingga Hari Kiamat nanti. Perintah untuk menegakkan Syatiah Islam tidak akan sempurna kecuali dengan adanya seorang Imam (Khalifah). Maka ayat di atas, dan juga seluruh ayat yang memerintahkan berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, hakikatnya adalah dalil wajibnya mengangkat seorang Imam (Khalifah), yang akan menegakkan Syariah Islam itu.

Dalil Al Qur`an lainnya, adalah ayat-ayat yang memerintahkan qishash (QS Al Baqarah : 178), hudud (misal had bagi pelaku zina dalam QS An Nuur : 2; atau had bagi pencuri dalam QS Al Maidah : 38), dan ayat-ayat lainnya yang pelaksanaannya bergantung pada adanya seorang Imam (Khalifah). Ayat-ayat semisal ini, berarti adalah dalil untuk wajibnya mengangkat seorang Imam (Khalifah), sebab pelaksanaan ayat-ayat tersebut bergantung pada keberadaan Imam itu.

Dalil As Sunnah, banyak sekali, antara lain sabda Nabi SAW :

من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية

“Barangsiapa yang mati sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada seorang imam/khalifah), maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR Muslim, no 1851).

Dalalah (penunjukkan makna) dari hadis di atas jelas, bahwa jika seorang muslim mati jahiliyyah karena tidak punya baiat, berarti baiat itu wajib hukumnya. Sedang baiat itu tak ada kecuali baiat kepada seorang imam (khalifah). Maka hadis ini menunjukkan bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) itu wajib hukumnya.

Dalil lain dari As Sunnah misalnya sabda Nabi SAW :

إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمروا أحدهم

“Jika ada tiga orang yang keluar dalam suatu perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka untuk menjadi amir (pemimpin).” (HR Abu Dawud).

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa jika Islam mewajibkan pengangkatan seorang amir (pemimpin) untuk jumlah yang sedikit (tiga orang) dan urusan yang sederhana (perjalanan), maka berarti Islam juga mewajibkan pengangkatan amir (pemimpin) untuk jumlah yang lebih besar dan untuk urusan yang lebih penting. (Ibnu Taimiyah, Al Hisbah, hlm. 11).

Dengan demikian, untuk kaum muslimin yang jumlahnya lebih dari satu miliar seperti sekarang ini, dan demi urusan umat yang lebih penting dari sekedar perjalanan, seperti penegakan hukum Syariah Islam, perlindungan umat dari penjajahan dan serangan militer kafir penjajah, maka mengangkat seorang Imam (Khalifah) adalah wajib hukumnya.

Adapun dalil Ijma’ Shahabat, telah disebutkan oleh para ulama, misalnya Ibnu Khaldun sebagai berikut :

نصب الإمام واجب ، وقد عرف وجوبه في الشرع بإجماع الصحابة والتابعين

“Mengangkat seorang imam (khalifah) wajib hukumnya, dan kewajibannya dapat diketahui dalam Syariah dari ijma’ (kesepakatan) para shahabat dan tabi’in…” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hlm. 191).

Imam Ibnu Hajar Al Haitami berkata :

اعلم أيضًا أن الصحابة رضوان الله عليهم أجمعوا على أن نصب الإمام بعد انقراض زمن النبوة واجب ، بل جعلوه أهم الواجبات حيث اشتغلوا به عن دفن رسول الله

“Ketahuilah juga, bahwa para shahabat -semoga Allah meridhai mereka- telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban paling penting ketika mereka menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan meninggalkan kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah SAW.” (Ibnu Hajar Al Haitami, As Shawa’iqul Muhriqah, hlm. 7).

Adapun dalil Qaidah Syar’iah, adalah kaidah yang berbunyi :

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“Jika suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya.”

Sudah diketahui bahwa terdapat kewajiban-kewajiban syariah yang tidak dapat dilaksanakan secara sempurna oleh individu, seperti kewajiban melaksanakan hudud, seperti hukuman had bagin pelaku zina dalam QS An Nuur : 2; atau hukuman had bagi pencuri dalam QS Al Maidah : 38, kewajiban jihad untuk menyebarkan Islam, kewajiban memungut dan membagikan zakat, dan sebagainya. Kewajiban-kewajiban ini tak dapat dan tak mungkin dilaksanakan secara sempurna oleh individu, sebab kewajiban-kewajiban ini membutuhkan suatu kekuasaan (sulthah), yang tiada lain adalah Khilafah. Maka kaidah syariah di atas juga merupakan dalil wajibnya Khilafah.

Berdasarkan penjelasan di atas, Khilafah hukumnya wajib berdasarkan 4 (empat) dalil, yaitu : Al Qur`an, As Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qaidah Syar’iyyah.

Empat Pilar Negara Khilafah

Khilafah mempunyai empat pilar (qaidah) yang mutlak wajib ada demi keberadaan dan kelangsungan keberadaan Khilafah. Jika salah satu pilar ini tidak ada, berarti Khilafah tidak ada atau telah berubah menjadi bentuk negara atau sistem pemerintahan lain yang tidak Islami. Kedudukan empat pilar ini seperti halnya rukun-rukun shalat, yang jika salah satu rukun itu tidak ada, maka shalatnya tidak sah dan tidak diterima oleh Allah SWT.

Keempat pilar Khilafah ini adalah sebagai berikut :
  1. Kedaulatan di tangan syariah, bukan di tangan rakyat.
  2. Kekuasaan di tangan umat.
  3. Mengangkat satu orang khalifah adalah wajib atas seluruh kaum muslimin.
  4. Hanya khalifah saja yang berhak melegislasikan hukum-hukum syara’, dan khalifah saja yang berhak melegislasi UUD dan segenap UU.

Pilar pertama, kedaulatan adalah ditangan syariah (as siyadah li as syar’i), dengan kata lain ialah bahwa yang berhak mengatur manusia hanyalah Syariah Islam, bukan hukum yang lain. Sebab definisi kedaulatan (as siyadah, sovereignty) adalah otoritas tertinggi yang bersifat mutlak yang merupakan satu-satunya pihak yang berhak mengeluarkan hukum untuk mengatur perbuatan manusia dan benda-benda yang digunakan manusia.

Tak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan seluruh umat Islam, bahwa kedaulatan di tangan syariah, sebab kedaulatan di tangan syariah itu artinya adalah hanya Allah SWT saja yang berhak menetapkan hukum bagi manusia (lihat misalnya QS Al An’am : 57; QS Asy Syura : 10).

Jika pilar pertama tentang kedaulatan ini hilang, yakni kedaulatan berubah menjadi di tangan rakyat, berarti Khilafah itu dengan sendirinya sudah hancur dan berubah menjadi sistem demokrasi. Dalam demokrasi, kedaulatan di tangan rakyat, yang berarti bahwa satu-satunya pihak yang berhak mengatur hidup manusia adalah manusia itu sendiri, bukan Allah SWT. Inilah perbedaan paling mendasar antara sistem Khilafah dan sistem demokrasi. Dalam Khilafah, kedaulatan di tangan syariah. Sedang dalam demokrasi, kedaulatan di tangan rakyat. Jelas demokrasi adalah paham kufur yang sangat bertentangan dengan Islam.

Pilar kedua, menetapkan kekuasaan ada di tangan umat (as sulthan li al ummah). Kekuasaan (as sulthan) didefinisikan sebagai otoritas untuk menerapkan hukum-hukum dan perundang-undangan. Pilar kekuasaan ada di tangan umat (as sulthan li al ummah) ini mengandung arti bahwa umatlah yang berhak memilih pemimpin yang dikehendakinya untuk menjalankan kekuasaan. Hal ini dapat dipahami dari hadis-hadis tentang baiat, bahwa seseorang tak menjadi pemimpin (khalifah), kecuali dibaiat (dipilih) oleh umat. Juga dapat dipahami dari hadis tentang pengangkatan pemimpin (ta`miir), yakni bahwa dalam perjalanan oleh tiga orang, harus diangkat pemimpin (amir) oleh pihak yang dipimpin (yakni umat). Inilah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa kekuasaan dalam Islam itu ada di tangan umat (as sulthan li al ummah).

Jika pilar tentang kekuasaan ini hilang, yaitu kekuasaan tak lagi di tangan umat, misalnya berubah menjadi di tangan keluarga atau suku tertentu, berarti Khilafah itu sudah hancur dan berubah menjadi sistem monarki (kerajaan). Contoh sistem monarki adalah Kerajaan Saudi Arabia yang kekuasaannya berada di tangan keluarga Ibnu Saud secara eksklusif. Inilah perbedaan mendasar Khilafah dengan sistem monarki. Dalam Khilafah, kekuasaan di tangan umat. Sedang dalam sistem monarki, kekuasaan secara eksklusif dimiliki oleh keluarga tertentu.

Pilar ketiga Khilafah, menetapkan bahwa mengangkat satu orang khalifah adalah wajib atas seluruh kaum muslimin. Pilar ini mempunyai dua dimensi pengertian. Pertama, khalifah yang diangkat wajib satu orang saja, tidak boleh lebih. Kedua, mengangkat khalifah itu sendiri adalah wajib hukumnya, bukan sunnah, mubah, dan sebagainya.

Jika pilar ini hilang dalam negara Khilafah, misalnya khalifah yang diangkat ada dua orang, maka otomatis Khilafah telah hancur dan berubah menjadi sistem lain. Sebab Syariah Islam telah mengharamkan membaiat dua orang khalifah pada waktu yang sama, sesuai sabda Nabi SAW,”Jika dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR Muslim).

Jadi pilar ketiga ini memastikan persatuan umat di bawah satu kepemimpinan. Maka dari itu, jelas kelitu sekali kondisi umat Islam yang terpecah belah dipimpin oleh banyak pemimpin sebagaimana dalam sistem negara-bangsa (nation state) sekarang ini. Demikian pula juga suatu kekeliruan jika mengangkat khalifah tidak lagi dianggap sebagai kewajiban, atau malah dianggap perbuatan criminal.

Pilar keempat, menegaskan bahwa Khalifah mempunyai hak khusus dalam melegislasikan hukum syara’ menjadi undang-undang yang berlaku umum dan bersifat mengikat. Hal ini didasarkan pada Ijma’ Shahabat yang melahirkan kaidah syar’iyah yang termasyhur,”Amrul Imam yarfa’ul khilaf.” (Perintah Imam [khalifah] menghilangkan perbedaan pendapat. Juga kaidah syar’iyah lain yang tak kalah masyhur,”Lil Imam an yuhditsa minal aqdhiyati bi qadri maa yahdutsu min musykilat.” (Imam [khalifah] berhak menetapkan keputusan baru sejalan dengan persoalan-persoalan baru yang terjadi).

Jika pilar keempat ini tidak ada, misalnya hak legislasi diserahkan kepada lembaga legislatif, bukan menjadi hak khusus khalifah, maka Khilafah hakikatnya sudah hancur dan berubah menjadi sistem demokrasi yang menetapkan hak legislasi ada di tangan lembaga legislatif.

Sekian info mengenai Penjelasan Mengenai Empat Pilar Negara Khilafah, semoga bermanfaat.

sumber: Hizbut Tahrir Indonesia
Posted by: Haris Info Blog, Updated at: 12.12

Download Kumpulan Suara Adzan Dari Berbagai Negara

Download Kumpulan Suara Adzan Dari Berbagai Negara - Assalamu'alaikum di kesempatan kali ini saya akan share Download Kumpulan Suara Adzan Dari Berbagai Negara, jadi buat antum yang lagi nyari Kumpulan Suara Adzan Dari Berbagai Negara terutama negara-negara di timur sana, silahkan disimak artikel mengenai Download Kumpulan Suara Adzan Dari Berbagai Negara ini.

Download Kumpulan Suara Adzan Dari Berbagai Negara

DOWNLOAD SUARA ADZAN DARI BERBAGAI NEGARA
Kalau antum capek harus download 1 per 1 jangan khawatir, saya juga share disini format winRAR nya, jadi Kumpulan Adzan di atas sudah saya jadikan 1 file yang bisa antum ekstrak nantinya.

Download Kumpulan Suara Adzan Dari Berbagai Negara
Download Haris Info Blog

Itulah info mengenai Download Kumpulan Suara Adzan Dari Berbagai Negara, semoga bermanfaat
Posted by: Haris Info Blog, Updated at: 19.50

Download Tajdid Linux, Distro Linux Bernuansa Islami

Download Tajdid Linux, Distro Linux Bernuansa Islami - Satu lagi Distro Linux Buatan orang Indonesia namanya Tajdid Linux, sistem operasi ini sangat bernuansa islami dan mendidik. Tajdid linux adalah distro linux lokal indonesia yang dibangun dan dikemas secara khas dan khusus serta sengaja ditujukan untuk anda yang menghendaki hadirnya nuansa keilmuan dan ke-Islam-an dalam sistem komputer. Tujuan dibuatnya Distro ini demi menghasilkan Linux Islam Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan pengguna komputer umum di Indonesia. Menghadirkan filosofi kemudahan, kehandalan. dikembangkan secara terbuka dan bersama-sama untuk dunia pendidikan dengan slogan Distro Studi dan Dakwah Islam.

Download Tajdid Linux, Distro Linux Bernuansa Islami

Download Tajdid Linux, Distro Linux Bernuansa Islami


Aplikasi Yang Ada di Tajdid:
  • Pudingmu, adalah sebuah aplikasi perpustakaan digital yang berisi koleksi-koleksi berbagai buku, artikel, makalah, jurnal, dan lain-lain yang berhubungan dengan dunia islami.
  • Bookmark ayat-ayat semesta adalah kumpulan indeks ayat-ayat kauniyah yang dikumpulan Dr. Agus Purwanto. Bokkmark ini terintegrasi dengan aplikasi Zekr. {dikutip dari Trackel}

Download Tajdid Linux
1,74 GB

Sekian postingan saya kali ini tentang Download Tajdid Linux, Distro Linux Bernuansa Islami, semoga bermanfaat.
Posted by: Haris Info Blog, Updated at: 23.58

Subhanallah, Jasad Syuhada Palestina Masih Utuh Setelah 19 Tahun

Subhanallah, Jasad Syuhada Palestina Masih Utuh Setelah 19 Tahun

Subhanallah, Jasad Syuhada Palestina Masih Utuh Setelah 19 Tahun - Entitas Zionis Israel menyerahkan puluhan jasad syuhada kepada rakyat Palestina yang digali dari pemakaman Palestina. Subhanallah, satu dari puluhan jasad yang sudah lama dikubur tersebut ternyata masih utuh tubuhnya, layaknya baru meninggal beberapa menit saja.

Jasad syahid tersebut bernama Syahib Ahmad Muhammad. Demikian dilansir Islammemo.

Jasad Ahmad tersebut telah dikebumikan sejak 19 tahun silam di Tel Aviv. Namun hingga sekarang, jasad tersebut masih utuh sama sekali.

Menurut salah seorang pemuda yang turut serta dalam pengurusan jenazah para syuhada tersebut, ketika dia membuka tutup peti jenazah, dia menemukan jasad Syahib masih utuh seperti adanya.

Tercatat, Syahib telah syahid pada tanggal 24 April 1993 dalam sebuah operasi perlawanan militer di kota Eilat yang dijajah Israel.

Sekian postingan saya kali ini tentang Subhanallah, Jasad Syuhada Palestina Masih Utuh Setelah 19 Tahun, semoga bermanfaat.
Posted by: Haris Info Blog, Updated at: 09.51

Mayoritas Elemen Umat Islam Tolak Lady Gaga, Tidak Hanya FPI

Mayoritas Elemen Umat Islam Tolak Lady Gaga, Tidak Hanya FPI
Pertemuan Ormas Islam Dengan Kapolda

Mayoritas Elemen Umat Islam Tolak Lady Gaga, Tidak Hanya FPI - Sejumlah organisasi massa Islam dari HTI, PITI, Al-Irsyad, Hidayatullah, Syarikat Islam, serta Tim Pengacara Muslim menemui Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya di Markas Polda Metro Jaya, Rabu, (23/05/2012).

Kepada Kapolda, Irjen Pol Untung S Rajab, ormas Islam menyatakan penolakan konser Lady Gaga yang akan digelar di Jakarta.

Pernyataan tersebut disampaikan Ustadz Rokhmat Labib, perwakilan ormas Islam dari HTI. Menurutnya, seluruh elemen umat Islam telah menyatakan menolak kehadiran Lady Gaga.

"Selama ini pemberitaan media mengatakan hanya FPI yang menolak, itu tidak benar. Tapi seluruh elemen umat Islam telah menyalakan penolakan," ujar Ustadz Rokhmat. Ia juga mensinyalir bahwa konser ini merupakan intervensi pemilik modal yang ingin meraup keuntungan.

Selain itu, Rokhmat juga menyatakan, mendukung sikap kepolisian yang tidak mengizinkan pelaksanaan konser penyanyi pemuja setan tersebut.

"Kami yakin kepolisian adalah bagian dari umat Islam yang berpihak pada kebenaran," tegas Rokhmat.

Menanggapi hal tersebut, Kapolda menegaskan bahwa sejak awal dirinya tidak merekomendasikan diadakannya pelaksanaan konser tersebut.

"Indonesia adalah negara berdaulat yang punya hak untuk menolak, jika hal tersebut jelas-jelas akan menggangu ketertiban masyarakat dan mengintervensi budaya Indonesia," kata Kapolda yang menampik adanya tekanan dari siapa pun soal sikapnya itu.

Itulah berita tentang Mayoritas Elemen Umat Islam Tolak Lady Gaga, Tidak Hanya FPI, semoga bermanfaat.

Sumber : hidayatullah.com
Posted by: Haris Info Blog, Updated at: 16.50

FPI Sudah Punya 157 Tiket Konser Lady Gaga

FPI Sudah Punya 157 Tiket Konser Lady Gaga

FPI Sudah Punya 157 Tiket Konser Lady Gaga - Organisasi Islam garis keras, Front Pembela Islam (FPI), nampaknya berbanding terbalik dengan sikap pihak kepolisian.

Murhali Barda selaku Ketua DPC FPI Bekasi, mengatakan bahwa sejumlah anggota FPI akan melakukan aksi penolakan di sela-sela konser Lady Gaga. Mereka akan berencana untuk naik ke panggung saat digelarnya konser bertajuk “Born This Way Ball Tour” itu.

Seperti dilansir OmgYahoo, Ketua DPC FPI Bekasi itu mengaku bahwa FPI telah membeli 157 tiket konser Mother Monster tersebut. Aksi pembelian tiket tersebut merupakan salah satu cara FPI untuk membatalkan penjualan tiket tersebut.

“Anggota yang sudah pegang tiket sebanyak 157 orang. Para anggota memikirkan bagaimana caranya bisa masuk dulu. Makanya harus punya tiket,” katanya seperti dilansir situs Inilah, Senin (21/5/2012).

Murhali Barda juga mengungkapkan bahwa FPI akan melakukan apapun selama konser berlangsung, tujuannya supaya konser Lady Gaga tersebut batal.

Dijelaskan pula, apabila dalam aksi penolakan konser tersebut (aksi naik ke panggung) mengakibatkan para anggota FPI dihajar maupun ditangkap, itu adalah resiko dalam menjalankan kebaikan.

157 tiket tersebut dibeli oleh anggota FPI dari dana sumbangan sukarela anggota di kawasan Jakarta Selatan. Tiket yang dibeli adalah tiket yang paling murah, yakni seharga Rp465 ribu.

Itulah berita tentang FPI Sudah Punya 157 Tiket Konser Lady Gaga, semoga bermanfaat.

Sumber : sidomi.com
Posted by: Haris Info Blog, Updated at: 18.40

Mahasiswa UMI Hafal Al Quran Diberangkatkan Umrah

Mahasiswa UMI Hafal Al Quran Diberangkatkan Umrah
Mahasiswa UMI Hafal Al Quran Diberangkatkan Umrah - Mahasiswa dari desa binaan UMI yang memiliki kecerdasan intelektual namun tidak memiliki anggaran untuk melanjutkan studi jenjang S1, disiapkan beasiswa dengan tiga kategori; bebas SPP, bebas SPP dan transportasi, serta bebas SPP, transportasi dan akomodasi. Selain itu, khusus kepada mahasiswa UMI yang menghafal al Quran 30 juz, akan dianugerahi umrah sebagai reward kepada hafids tersebut. Hal ini disampaikan Rektor UMI Prof Dr Hj. Masrurah Mokhtar, belum lama ini.

Masrurah mengatakan, UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah dalam mengantisipasi perkembangan masa depan di dunia pendidikan, senantiasa mengedepankan persoalan kualitas. Hal ini menjadi motor inspirator civitas akademika UMI untuk berkompetisi secara sehat di era globalisasi sehingga dapat menjadi pusat keunggulan.

Kepercayaan masyarakat dan pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan di UMI makin meningkat. Tahun 1994, UMI diberi izin sebagai perguruan tinggi swasta pertama di kawasan Timur Indonesia.

"Alhamdulillah tahun ini untuk program doktor S3 memperoleh akreditas dari BAN DIKTI, dengan nilai B. Selain itu, UMI yang memiliki alumni kurang lebih 70.000 orang dengan tenaga pendidik yang bergelar doktor terbesar di Kawasan Timur Indonesia, kembali mengukir prestasi dengan memperoleh akreditasi institusi dari Badan Akreditasi Nasional," jelasnya, dimuat laman Fajar.

Selain itu, tahun ini UMI mendapat kepercayaan untuk membuka program studi kedokteran gigi dan pendidikan bahasa Inggris. Salah satu program keunggulan UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, adalah program pencerahan kalbu yang mengintegrasikan kuliah pencerdasan intelektual dengan kuliah pencerdasan spiritual bagi mahasiswa baru UMI yang dilaksanakan di Pesantren Mahasiswa Darul Mukhlisin UMI, yang berlokasi di Desa Padanglampe Kabupaten Pangkep.

Dalam perkembangannya, bukan hanya mahasiswa baru yang dipondokkan di Pesantren Darul Mukhlishin, tetapi pimpinan, dosen, karyawan dan pengurus lembaga kemehasiswaan dalam lingkungan Yayasan Wakaf UMI juga ikut dibina. Pola pembinaan yang dilakukan di pesantren ini , ternyata mendapat respons yang positif dari orang tua mahasiswa UMI, masyarakat dan beberapa instansi pemerintah dan swasta.

Sekian postingan saya tentang Mahasiswa UMI Hafal Al Quran Diberangkatkan Umrah, semoga bermanfaat.

Sumber : hidayatullah.com
Posted by: Haris Info Blog, Updated at: 00.15

Sesungguhnya Surgaku Ada di Hatiku!

Sesungguhnya Surgaku Ada di Hatiku!
Sesungguhnya Surgaku Ada di Hatiku! - Di dalam Majalah Cahaya Nabawiy Edisi 98 Dzulqa`dah/September ini ada sebuah artikel menarik tentang”bencana alkohol”. Pada paragraph terakhir tulisan itu, ada satu kisah menarik tentang dua orang yang sama-sama sedang mengalami kesakitan di sebuah rumah sakit.

Kedua pasien baru saja menjalani operasi. Meski sama-sama dirawat, ada dua hal yang membedakan kedua pasien tersebut.

Bedanya pasien pertama berteriak-teriak histeris tidak karuan, mengeluarkan kata-kata umpatan, caci-maki sampai kedua tangan tangannya dan kakinya harus diikat.

Sementara pasien kedua, ia juga mengalami rasa sakit yang hampir sama. Ia juga berteriak-teriak dengan suara nyaring namun isi teriakannya adalah adzan. Dokter yang menulis kisah ini terheran-heran dengan dua perilaku kedua pasien yang sedang ia tangani. Satunya teriak kotor dan satunya lagi mengagungkan kebesaran Allah SWT.

Karena penasaran, sang dokter akhirnya bertanya kepada pihak keluarga. Jawabannya, pasien yang teriak adzan adalah seorang juru azan (bilal) di mushalla yang ada di dekat rumahnya, di mana ia saban waktu mengumandangkan shalat dan mengajak masyarakat sekitar untuk datang ke mushalla untuk shalat berjama`ah.

Adapun pasien satunya, dilihat dari rekam medisnya ternyata ia seorang peminum minuman keras yang mengalami kecelakaan usai menenggak minuman yang memabukkan.

Pengalaman sang dokter seperti kisah di atas saya kaitkan dengan kisah lainnya sebagaimana ditulis oleh Alwi Alatas dalam bukunya yang berjudul “Whatever Your Problem, Smile: (Apapun Masalahmu, Tersenyumlah).

Dalam buku ini, Alwi mengemukakan sebuah penelitian yang dilakukan olen seorang ahli tentang “Kaitan Relijiusitas dan Keimanan Seseorang dengan Rasa Sakit.”

Penelitian dilakukan kepada orang yang taat beragama, biasa pergi ke tempat ibadah, dan dekat dengan Tuhannya, adapun objek penelitian selanjutnya dikenakan pada orang yang tidak taat beragama, bahkan tidak sedikit yang tidak percaya Tuhan alias atheis.
Bagaimana cara melakukan penelitian?

Peneliti memasang alat di kepala mereka yang taat beragama dan yang tidak taat saat mengalami rasa sakit. Kemudian, mereka diberi aliran listrik untuk menimbukan efek sakit. Akibatnya, mereka sama-sama merasakan rasa sakit dari aliran listrik. Lalu, mereka dikondisikan dengan foto-foto tokoh yang mereka idolakan selama ini.

Orang-orang yang relijius diberi foto bergambar tokoh relijius, dan orang yang tidak relijius diberi foto tokoh yang mereka kagumi.

Ternyata, meski keduanya menunjukkan aktivitas menahan rasa sakit yang sangat, namun keadaannya jauh berbeda. Tingkat rasa sakit orang-orang yang tak relijius dan atheis tetap dalam volume tinggi. Sementara, rasa sakit yang dialami oleh orang-orang yang relijius menurun.

Kata Alwi, penulis buku ini, rasa sakit dapat tetap tinggi atau menurun tergantung dengan kuat tidaknya iman seseorang.

“Keyakinan dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh seseorang,” tulisnya.
Dua kisah di atas memberikan pelajaran kepada kita.

Pertama, membiasakan hal-hal yang baik membuat kita terbiasa dalam situasi kebaikan pula. Dalam pepatah arab pernah kita dengar, “Man Syabba a`la Sya`in Saabba a`laihi (barangsiapa terbiasa melakukan sesuatu sejak dini, akan terbawa hingga dewasa).”

Kebiasaan memang belum belum tentu baik namun kebaikan, itu perlu kita biasakan.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap manusia akan mati lalu dibangkitkan sesuai keadaan semasa ia hidup.” Ketika kebiasaan baik kita lakoni saban hari, maka kesempatan untuk meraih husnul khatimah terbuka lebar bagi kita. Sebaliknya, kala keburukan yang kita budayakan, maka lawan khusnul khatimah yang akan kita raih.

Kedua, selayaknya kita menempatkan tokoh-tokoh yang mempunyai integritas pada hati kita.

Seyogianya kita berhati-hati sebelum mendudukkan seseorang sebagai idola dan pujaan hati.

Penelitian dalam kisah tersebut sedikit memberi bukti bahwa pengidolaan yang salah membuat diri menjadi tersiksa secara lahir, belum lagi hati kita yang tidak nyaman di kala musibah datang.

Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda, “Seseorang itu akan dibangkitkan bersama orang yang ia cintai.”

Ketika kita menumpahkan cinta pada sosok yang tidak kenal Allah, tidak bersembah sujud, memuji, bertasbih kepada-Nya, malah mendurhakai-Nya, maka siap-siaplah kita kelak dibangkitkan setelah mati bersama mereka.

Banyak sosok dengan kepribadian mengagumkan yang bisa kita idolakan.

Sederet tokoh terdahulu maupun sekarang, bisa kita jadikan sebagai teladan. Dan dari semua sosok tersebut, yang paling unggul dalam ketakwaan, kebaiakan, kedermawanan, kelembutan, adalah Nabi Muhammad SAW.

Dengan mengidolakan beliau, segala kehidupan akan menjadi mudah belaka.

Mengapa? Karena kita mencontoh pribadi yang telah tahan banting mengarungi kehidupan dunia yang penuh cobaan dan masalah. Beliau sigap mengemas kesulitan menjadi kemudahan. Dengan meniru dan mengidolakan beliau, dengan sendirinya kita akan berusaha meneladani jejak langkahnya dalam suka maupun duka.

Ketiga, pentingnya kedudukan iman dan yakin. Yakin adalah gambaran tentang kekuatan dan kekokohan iman, yang tidak mudah diombang-ambing oleh keraguan, dan gundah gulana.

Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam bukunya Risalatul Mu`awanah menyebut ada tiga perkara yang menjadi sebab keyakinan kita menjadi kuat dan kokoh.

“Pertama, menjadikan hati dan telinga untuk aktif menyimak ayat-ayat Allah yang berisi petunjuk keagungan-Nya, kesempurnaan-Nya, dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Kedua, selalu melihat dan merenungi ciptaan Allah yang terbentang di hadapan seorang hamba. Mengamati bagaimana indah dan uniknya ciptaan Allah. Ketiga, beramal kebaiakan, secara lahir maupun batin, dengan penuh kesungguhan dan keseriusan.”

Dengan keyakinan yang kuat, kita tidak mudah berputus asa saat kesulitan datang menerpa. Justru kesulitan dapat kita jadikan sebagai kesempatan mencari karunia Ilahi seluas-luasnya.

Dengan keyakinan yang mantap pula, Ibnu Taimiyah berkata ketika ia dijebloskan ke penjara oleh rezim yang hidup di masanya, “Apa yang dapat dilakukan oleh musuhku! Sesungguhnya surgaku ada di hatiku. Ke manapun aku pergi dia selalu bersamaku. Apabila aku dipenjara maka itu adalah khalwatku (berduan-duaan) dengan Allah, apabila aku dibunuh maka syahadah (kesyahidan) bagiku, dan apabila aku diusir maka itu merupakan syiyahah (perjalanan di jalan Allah).”

Sekian postingan saya kali ini tentang Sesungguhnya Surgaku Ada di Hatiku!, semoga bermanfaat untuk pembaca semua.

Sumber : hidayatullah.com
Posted by: Haris Info Blog, Updated at: 01.37